Tampilkan postingan dengan label bahasa ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa ibu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Juni 2013

Bunda, Ajarkan Ajal Sebagai satu- satunya Sebab Kematian (Al-Maut)

Bismillahirrahmanirrahim

Bunda sholihah, apa kabar semuanya? semoga keberkahan senantiasa menyelimuti ruang keluarga bunda sekalian dalam menjalankan aktivitas  keseharian selaku hamba Allah :)*peluk

Kali ini ingin berbagi kisah kelana perjalanan belajar  sang mujahid, dari aksara tanya sang mujahid "rasa ingin tahu anak" tentang ajal....

Bunda sholihah, Dalam lingkaran kebersamaan madrasah rumah, dalam ruang belajar entah dalam putaran waktu  yang keberapa, disaat kami mendampingi proses belajar sang mujahid terkadang mencuat pertanyaan-pertanyaan kritis iannyapun meluahkan pertanyaan dengan tiba-tiba  tanpa bisa kita prediksi pertanyaan apa yang ingin ia tanyakan, sebagai mana sang mujahid, selepas makan malam ianyapun meluahkan aksara tanya " bunda ajal itu apa?"  untuk menjawab pertanyaan sang mujahid, bunda tidak sekedar menjawab dengan kalimat yang akhsan secara verbal semata  namun belajar tentang ajal  bagi  sang mujahid    merupakan azas dalam rangka menegakkan aqidah pada sang mujahid sebagaimana kami pahamkan kepadanya. Dalam perkara ajal kami fahamkan kepada sang  mujahid dengan  pendekatan bahasa ibu dalam kandungan muatan ideologis. Bunda sholihah maaf,  jangan lakukan pemahaman ajal kepada anak  dengan kalimat " nak ajal itu  datangnya dari Allah  ". kalimat tersebut secara verbal kelihatannya baik dan benar namun belum memiliki nilai ideologis.

Bunda sholihah , mari kita fahamkan kepada anak-anak kita   bahwa tempo (ajal) adalah  satu-satunya sebab  kematian. bagi setiap mahluk yang bernyawa,   sebagaiman firman Allah SWT :
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. ( TQS. Al- Munaafiqun:11)
Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan. Maka apabila telah tiba waktunya (yang ditentukan) bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukannya. (TQS. An-Nahl:61)
Ayat- ayat diatas menerangkan kepada kita bahwa ketika tempo (ajal) kematian seseorang telah berakhir, maka Allah pun tidak akan menangguhkan kematiannya. demikian pula ketika ajalnya belum berakhir, Allah juga tidak akan memajukannya. 
Bunda Sholihah,  bila kita selaku bunda tidak 'ON' (tidak kita fahami) terkait realitas kematian   berdasarkan ajaran Islam, maka kitapun akan menjawab pertanyaan terkait ajal dengan jawaban yang akan menimbulkan kekacauan pada pemahaman  anak serta kekaburan yang menutupi realitas kematian sebagai sebuah realitas agung dalam kehidupan. Akhirnya berkembang khurafat, bahwa kematian substansinya satu  tetapi penyebabnya beribu hal, hingga dalam waktu kekinian kita sering menjumpai lontaran-lontaran kalimat  semisal  bahwa kematian itu disebabkan oleh penyakit kanker, atau kecelakan, atau bisa juga karena di bunuh dll. Semua kalimat yang menjadi alasan tadi dijadikan sebagai sebab datangnnya kematian. Saat ini karena jauh nya nilai-nilai islam kaffah dalam ruang keluarga , lingkungan bahkan bernegara, akhirnya kitapun terkadang tidak dapat membedakan antara apa yang menimbulkan akibat secara pasti, layaknya hukum sebab akibat, dengan faktor-faktor kondisonal ( Al- haalah) yang memungkinkan terjadinya kematian 

Bunda sholihah, mari sama- sama kita fahamkan pula  kepada anak-nak kita bahwasannya  kehidupan dan kematian sama-sama berada di tangan Allah ( datangnnya dari Allah sebagai sebuah ketetapan). Allah lah Yang Maha Menghidupkan ( al-Muhyi) dan mematikan ( Al-Mumit), sebagaimana dalam nash- nash alqur'an  yang artinya :

  
Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (TQS. Ali Imran :145)
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan[1313]. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (TQS Az-Zumar:42)
Apakah kamu tidak memperhatikan orang[163] yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan."[164]Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (TQS. Al-Baqarah :258)

Dan masih banyak  ayat- ayat Allah SWT yang senada dengan ayat-ayat diatas yang membahas perkara kematian , sejatinya ayat-ayat diatas secara gamlang menjelaskan bahwa realitas kematian yang agung  tersebut merupakan kenyataan yang di tetapkan oleh Allah  SWT. Ayat-ayat diatas pun menjelaskan bahwa Allah SWT  lah yang menjadi sebab kematian, bukan yang lainnya. Artinya bahwa realitas agung kematian tersebut bergantung pada iradah dan masyi'ah-Nya.
Bunda Sholihah, bisa kita pahamkan juga  dengan bahasa ibu  bahwa ketika Allah telah menetapkan kematian  pada manusia, pasti tidak ada seorangpun yang bisa terhidar dari kematian itu, mau lari kemanapun maka kematian tetap akan menghampirinya  meskipun ia bersembunyi dalam istanah yang kokoh sekalipun, maka sebaliknya sekalipun ianya luka parah bahkan sekarat sekalipun  bila kematian belum ditetapkan atasnya maka diapun tidak akan mati 
Bunda sholihah,  pemahaman yang juga perlu dipahamkan kepada anak-anak kita  bahwa tidak ada seorang anak manusiapun yang mengerti apa yang bakal terjadi pada dirinya , termasuk kapan, dimana , dan kondisi yang bagaimana ajal menjumpainya. Maka berikan pula motivasi serta pemahaman kepada anak-anak kita agar senantiasa berupaya menjaga dirinya  agar tidak meninggal dalam keadaan su al-khatimah, sebagaimana kisah para sahabat  bahwa kehidupan dan kematian mereka adalah perpacuan untuk mendapatkan tempat kemuliaan  yang terbaik disisi Allah, kematian bagi para sahabat perpacuan dalam perlombaan untk ikut serta dalam peperangan dalam rangka mendapatkan mati syahid , yang berarti husnul al-khatimah.
Bunda Sholihah, karena itu mengapa dahulu  para sahabat menjadi orang yang sangat berani menegakkan kebenaran, tanpa rasa takut sedikitpun terhadap kematian ?, Bunda sholihah, mari kita cermati dan resapi Dialog cinta seorang ibunda Asma' binti Abu Bakar, Bunda dari seorang pejuang  dan ianya pun  adalah seorang khalifah  yaitu Abdullah bin Az-Zubayr , Abdullah bin Az-Zubair saat menjadi seorang khalifah  yang pada waktu itu mengalami kekalahan dalam peperangan menghadapi pasukan Al-Hujjaj, Panglima Marwan Al- Hakam, Berikut Dialog Cinta itu :
"Bagaimana ini wahai ibunda? beliau (Asma') berkata: "Sesungguhnya di dalam kematian itu ada ketenangan. jika kamu terbunuh, ibumu telah merelakanmu,dan jika kamu menang, maka kamu telah menjadi cahaya kedua mataku. 'Wahai ibunda, mereka telah memberikan ananda jaminan keamanan; bagaimana menurut mu? beliau (Asma') berkata :"Wahai anakku kamu lebih tahu akan dirimu; jika kamu memang berada dalam jalan kebenaran, dan menyerukannya, maka jangan beri peluang budak bani ummayah mempermainkan kamu, tetapi jika kamu tidak berada  pada jalan kebenaran , maka tetapkan pada urusanmu dan apa yang kamu kehendaki. 'wahai Ibunda, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Tahu, bahwa tidak ada yang ananda kehendaki selain kebenaran, dan hanya itulah yang ananda tuntut. Ananda tidak melangkah dalam keraguan sedikitpun . Sungguh, ananda menyatakan demikian, bukan untuk menenangkan hati ananda, tapi untuk menenangkan hati ibunda. 'Wahai Ibunda, Sesungguhnya ananda takut jika ananda dibunuh , mereka akan memotong-motong ananda.' Beliau (Asma') berkata:"Wahai ananda, sesungguhnya kambing tidak lagi merasakn sakitnya pemotongan ketika telah disembelih.'Segala puji hanya milik Allah yang telah memberi taufiq kepada ibunda, dan meneguhkan hati ibunda".
Bunda Sholihah , Dialog cinta tentang  jalan ikhtiar terhadap pilihan kematian(syahid) diatas, antara seorang ibu dan anaknya, seperti  sahabiyah Asma' dan anaknya Abdullah, bahwasannya kematian bukanlah lah sesuatu yang ditakuti dalam rangka memperjuangkan kebenaran,bahkan kematian (syahid) menjadi suatu kebanggaan mereka.  Pun halnya kita sebagai seorang bunda saat ini, semoga kisah diatas dapat diambil hikmah dan ibroh untuk mengarak langkah-langkah ananda agar ianya meraih kemuliaan disisi Allah SWT.
"Allahuma Atiina syahadah"......
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِى الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, pahamkanlah dia akan ilmu agama dan ajarilah dia ta’wilnya.”


Barakallahu fiikum wa ahlikum.....

salam saudarimu 

UA

Minggu, 14 April 2013

Belajar Bahasa untuk membangun pola jiwa Anak Usia Dini


Bismillahirrahmanirrahim,
Bunda Sholihah,  Hakikinya bahasa adalah jembatan ilmu  yang berfungsi sebagai alat komunikasi antar manusia dalam hal ini orang tua dan anak, yang  dengan bahasa akan dapat menghantarkan anak memahami suatu pemikiran yang tinggi nan cemerlang,  itu semua tentu para  orang tua membutuhkan sebuah kemampuan berbahasa yang baik dan benar. Sebaliknya, Bahasa yang rendah dan kasar tidak akan mampu mengantarkan sampainya pemikiran-pemikiran yang tinggi nan cemerlang secara benar dan tepat kepada anak.
Islam sebagai sebuah Ideologi yang sempurna dan paripurna (way of life) mengandung pemikiran-pemikiran yang tinggi nan cemerlang yang dapat mempengaruhi akal dan membangkitkan jiwa manusia secara baik dan benar sesuai mau dan inginnya Allah SWT, semua itu dapat diwujudkan tentu dengan menyampaikan pemikiran-pemikiran yang bersumber dari Islam dalam penyampaian bahasa yang sesuai dan tepat, bahasa yang sesuai dan tepat memiliki dua indikator:
  • ·      Bahasa yang sederhana
Adalah bahasa yang mudah dipahami maknanya dan jelas sehingga mudah diyakini oleh anak agar anak terdorong mengambil pemikiran tersebut.
  • ·      Bahasa yang lengkap/utuh
Adalah bahasa yang sesuai dengan level berfikir anak sehingga anak mampu mempengaruhi orang lain dalam rangka ammar ma’ruf nahi mungkar

Petujuk Bahasa yang memiliki kesesuain dengan level kemampuan berfikir anak dapat kita lihat dalam riwayat beberapa hadist berikut:

Dari Ali ra. Ia berkata:
“Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui, apakah engkau suka ALLAH dan Rosul-Nya di dustakan?”(HR.Al. Bukhari)

Dari Abdullah Bin Mas’ud, ia berkata:
“Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan pembicaraan yang tidak terjangkau akal mereka, kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka.”(HR. Muslim)

Ibnu Abbas berkata:
“ Jadilah kalian pendidik yang lapang dada dan faqih.Disebut Rabbani adalah orang yang mendidik manusia dengan ilmu yang kecil-kecil sebelum yang besar-besar”(HR. Al-Bukhari)

Sebuah pemikiran tentu membutuhkan validasi asal muasal pemikiran tersebut, dalam hal ini pemikiran-pemikiran Islam  merupakan wahyu dari Allah SWT, sebagai mana yang termaktub dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan keduanya berbahasa arab, sehingga penguasaan bahasa arab sebagai bahasa Al-Qur’an, menjadi sangat penting bagi setiap muslim termasuk anak-anak kita yang berada dalam lingkaran pilihan  Islamic homeschooling.

lagu bobo-bobo pengantar tidur ananda Ammar

Lagu berikut adalah lagu yang biasanya ananda Ammar nyanyikan sebelum berangkat tidur, sebagai salah satu cara mengajarkan Ananda Ammar mencintai sunnah Nabi-Nya dengan belajar menghafalkan do'a- do'a keseharian, pada kali ini belajar do'a mau tidur dengan bernyanyi, berikut ini podcast dari suara ammar dalam menyanyikan lagu bobo-bobo semuanya tentu dengan bahasa ibu:), selamat mendengarkan suara ananda Ammar.

menanamkan aqidah pada anak usia dini dengan bahasa ibu melalui puisi



Bunda sholihah..., ada beragam cara menanamkan aqidah pada anak usia dini, tentu kita akan membahasakannya dengan bahasa ibu,  bahasa ibu  memiliki maksud bahwa ibu adalah sumber kasih sayang bagi putra dan putrinya. Maka pemahaman aqidah  yang akan kita terapkan pada putra dan putri kita  tentunya dengan cara lemah lembut (layyin). Sebagaimana pernah di contohkan oleh seorang hamba Allah yang penuh kasih sayang yang  termuat dalam kalam Illahi pada surat Luqman. yang tujuannya ananda paham tentang gambaran aqidah islam dengan menjawab atau tergambar dari mana ananda berasal, untuk apa ananda hidup didunia serta akan kemana ananda setelah meninggalkan dunia ini, intinya kita memberikan pemahaman inisiasi dini terkait mapping life bagi buah hati kita agar memiliki kejelasan gambaran hidup sesuai pondasi keyakinan sebagai  seorang anak muslim. Fahamkan pada putra-dan putri kita  jangan pernah menyekutukan Allah (syirik) yang artinya kita membuat rekaman kepada putra dan putri kita jangan sampai ada dalam benak hati mereka memahami Tuhan Selain Allah SWT. Pada  usia dini, merupakan usia dimana anak-anak kita memiliki  daya rekam yang sangat tajam, serta pita otak yang belum berfungsi secara optimal, masih banyak memori-memori yang kosong. Sedangkan Ibu adalah  madrasah pertama dan utama bagi anak-anaknya, sehingga seorang Ibu adalah kunci penentu peletak dasar pemahaman tentang Allah SWT sebagai Tuhan, sehingga disinilah letak urgensitas bahasa ibu terhadap peletakan pemahaman aqidah bagi anak usia dini. Dan Bahasa ibu menjadi sebuah teknik pendekatan yang jitu  dalam mengenalkan aqidah yang benar bagi anak usia dini, agar anak-anak kita tidak tumbuh  sesuai dengan naluri hawa nafsu yang digerakan oleh mereka. Bunda Sholihah mari sama-sama kita jaga fitroh anak-anak kita dengan memohon kepada Allah SWT  agar anak-anak kita senantiasa dalam penjagaan Allah SWT.
malam ini ananda Ammar belajar aqidah Islam dengan  bahasa ibu, adapun cara nya bunda membuatkan sebuah puisi  berjudul Allah buat ananda Ammar yang bunda bacakan kepada ananda Ammar..., bunda sholihah jangan lupa buat suasana gembira dengan membaca puisi agar anak bisa menikmatinya, dan ini bisa menjadi langkah awal anak mengenal puisi dan salah satu cara dalam bahasa ibu untuk menanamkan aqidah pada anak usia dini melalui puisi, selamat menikmati  puisi berikut ini :)


Judul: Allah

Allah…
Aku belajar mengucapkan asma-Mu
Aku belajar menuliskan asma-Mu dari susunan huruf –huruf hijaiyah alif lam dan ha
nama indah pada tangga cinta pertama

Allah
Dari madrasah cinta bunda
aku mengenal-Mu
aku tahu Engkau penciptaku
dan aku pun tahu Engkau Maha pengatur

Allah
Aku adalah titipan agungmu untuk ayah dan bunda
Yang Engkau letakkan aku di tempat yang bernama dunia
Dunia, tempatku beribadah hanya untuk-Mu
Dunia, tempatku menjalankan aktivitas keseharian dengan Aturan-Mu

Allah
Nenekku telah meninggal
Kata bunda nenek menghadap Allah 

Dan kelak ayah, bunda dan akupun akan meninggal
Dengan membawa catatan amal kami masing-masing
Dan disitulah pintu awal aku menuju negeri bernama akhirat
Menuju rumah abadi kami

Allah
Semoga kami menjadi keluarga dunia dan akhirat bersama di jannah-Mu

by: ummu ammar
image:www.Allah.org



Share